BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan bagian terpenting dari kehidupan manusia, yang mana dengan belajar maka itu berarti bahwa kegiatan menuju pendewasaan dalam berpikir untuk menuju kehidupan yang lebih berarti. Pendidikan dapat membedakan manusia dengan hewan. Hewan juga ”belajar”, akan tetapi lebih ditentukan oleh instink. Sedangkan bagi manusia, belajar berarti rangkaian kegiatan menuju ”pendewasaan” untuk kehidupan yang lebih baik dan berarti.
Pendidikan Islam mulai berkembang sekitar abad ke 14 dan 15 M, ketika Kerajaan-kerajaan Islam berkembang di tanah air. Perkembangan Agama Islam di Nusantara tidak terlepas dari jasa-jasa Wali Songo. Berbagai saluran atau sarana penyebaran mereka gunakan. Salah satunya ialah melalui pendidikan. Apa yang dilakukan oleh para Wali Songo dalam menyebarkan Agama Islam ini sangat menarik sehingga banyak masyarakat yang berminat dan tertarik pasa ajaran mereka. Seiring dengan perkembangan Agama Islam, maka Pendidikan Islam juga mengalami perkembangan.
Pada awalnya pendidikan Islam dilakukan.melalui pengajaran di langgar dan pesantern-pesantren. Di langgar dan pesantren ini para murid, mendapat pendidikan hanya seputar ajaran agama Islam saja. Dasar pendidikannya adalah ajaran agama, maka yang diajarkannya pun hanya hal-hal yang berkaitan dengan ajaran-ajaran agama Islam.
Dalam perkembangan selanjutnya, di Indonesia mulai mengenal persekolahan resmi. Pendidikan Islam tidak hilang begitu saja. Muncullah Madrasah, yaitu sekolah yang dikelola oleh pemerintah atau badan swasta (masyarakat). Dalam madrasah tidak hanya mengajarkan ajaran agama Islam saja, tetapi juga ilmu pengetahuan lainnya. Pendidikan Islam melalui pesantren-pesantren sampai sekarang masih ada, dan melalui langgar juga masih dapat di jumpai di Masjid-masjid, yang lebih di kenal dengan sebutan TPA.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana hakikat dan perkembangan pendidikan Islam?
2. Bagaimanakah model pendidikan Langgar, Pesantren dan Madrasah?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Hakikat dan Perkembangan Pendidikan Islam
1. Hakikat Pendidikan Islam
Hakikat pendidikan Islam tidak terlepas dari hakikat Pendidikan secara umum. Dalam arti umum pendidikan mencakup segala usaha dan perbuatan dari generasi tua ke generasi muda untuk mengalihkan pengalaman, pengetahuan, dan ketrampilannya untuk dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya dan menjadi manusia yang seutuhnya. Menurut T. Raka Joni, hakikat Pendidikan meliputi 5 aspek yaitu :
a. Merupakan proses interaksi manusiawi yang ditandai dengan keseimbangan antara kedaulatan subjek didik dengan kewibawaan pendidik.
b. Merupakan usaha penyiapan subjek didik menghadapi lingkungan hidup yang mengalami perubahan yang semakin pesat.
c. Meningkatkan kehidupan pribadi dan masyarakat.
d. Berlangsung seumur hidup
e. Merupakan hubungan dalam menerapkan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan dan teknologi bagi pembentukan manusia seutuhnya.
Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa pendidikan bukan sekedar transfer pengetahuan saja tetapi juga sekaligus sebagai transfer nilai-nilai. Dengan demikian pendidikan dapat menjadi penolong dalam kehidupan manusia. Sama halnya dengan Pendidikan Islam, yang menjadi tujuan utama ialah transfer niali-nilai keagaaman yang ingin membentuk manusia yang berakhlak.
Hakikat pendidikan Islam juga tidak bisa dilepaskan dari hakikat ajaran agama Islam itu sendiri. Hakikat ajaran agama Islam ialah patuh dan taqwa kepada Allah. Hal yang diutamakan dalam ajaran Islam adalah kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan oleh umat Islam. Kewajiban-kewajiban ini dikenal dengan sebutan fikh yang terdiri atas lima hal, yakni:
a) Syahadah, yaitu mengucapkan kalimat bahwa “Tidak ada Tuhan yang harus disembah, melainkan Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya”.
b) Melakukan shalat lima waktu.
c) Membayar zakat kepada fakir miskin.
d) Berpuasa dalam bulan Ramadhan.
e) Pergi naik haji bagi yang mampu.
Dari uraian mengenai hakikat ajaran Islam tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa hakikat pendidikan Islam pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan hakikat ajaran Islam, kerena pendidikan Islam harus di dasarkan atas nilai-nilai yang digali dari sumber Islam yang sebenarnya. Pendidikan Islam berusaha mengantarkan manusia untuk mencapai keseimbangan pribadi secara menyeluruh dan berupaya untuk mengembangkan semua aspek dalam kehidupan manusia yang meliputi aspek spritual, intelektual, imajinasi, keilmiahan, dll.
Tujuan dari pendidikan Islam ialah memberi dorongan untuk menuju kebaikan dan pencapaian kesempurnaan hidup, baik dalam hubungan dengan Tuhan, sesama, maupun dengan alam semesta. Pada intinya Pendidikan Islam ingin melahirkan manusia-manusia yang berahlak dan berbudi pekerti luhur, sebagaimana yang telah tertuang dalam ajaran agama Islam. Pengajaran dalam pendidikan Islam lebih menekankan pada ajaran agama, maka kitab Al-Quran adalah pedoman yang selalu digunakan dalam pengajaran Islam.
2. Perkembangan Pendidikan Islam
Masuk dan berkembangnya Agama Islam di Indonesia sekitar abad ke 14 dan 15 melalui berbagai saluran. Salah satunya ialah melalui pendidikan, tokoh yang menggunakan saluran ini ialah para Wali Songo. Cara dan metode yang mereka gunakan sangat menarik bagi masyarakat Indonesia pada saat itu.
. Pengajaran agama Islam awalnya dilakukan melalui Pesantren-pesantren dan pengajaran Langgar. Melalui pesantren dan langgar ini para murid, mendapatkan pendidikan seputar ajaran agama Islam. Dasar dari pengajaran di langgar dan pesantren ini adalah ajaran Islam, maka yang diajarkan hanya hal-hal yang berhubungan dengan agama Islam saja.
Pada perkembangan selanjutnya, muncullah Madrasah-madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam yang berdiri sendiri (awal abad ke-20). Madrasah merupakan lembaga pendidikan agama Islam yang kurikulumnya selain memuat materi pelajaran agama, juga memuat materi pelajaran umum. Di Madrasah pelajaran agama tetap diutamakan, mata pelajaran agama lebih banyak dibandingkan dengan mata pelajaran agama pada sekolah umum.
B. Model Pendidikan Langgar, Pesantren dan Madrasah
1. Model Pendidikan Langgar
Pendidikan di Langgar termasuk permulaan, yang mana disinilah para murid mulai belajar abjad Arab, mengeja ayat-ayat Al Quran dengan pelafalan yang benar dan membacanya dengan nada atau irama.
Ciri-ciri pendidikan di Langgar adalah
o Pelajaran yang diberikan adalah pelajaran agama yang masih bersifat dasar atau elementer. Dimulai dengan membaca abjad Arab dengan pelafalan dan intonasi yang benar serta cara menulis.
o Murid yang tergabung biasanya berumur 6–12 tahun sehingga biasanya dalam membaca hanya mengikuti atau menirukan apa yang telah dibacakan oleh gurunya.
o Murid-murid diajar secara individual sehingga apabila ada kesulitan dan kesalahan maka guru dapat langsung membantu dan mengoreksinya
o Pelajaran biasanya berlangsung pada sore hari dan selama 2 jam.
o Tidak dipungut biaya namun tergantung kerelaan atau keikhlasan dari orang tua murid.
o Pada umunya pelajaran berlangsung sekitar 1 tahun namun semuanya tergantung pada kemampuan murid.
o Apabila murid dinyatakan tamat maka biasanya diadakan selamatan atau yang biasa dikenal dengan Khatam.
Kelebihan dari pendidikan Langgar, yaitu
o Pendidikan di Langgar merupakan dasar atau awal dari pengajaran Islam.
o Adanya hubungan yang erat antara guru dan murid serta guru dapat langsung membantu dan mengoreksi apabila ada murid yang mengalami kesulitan. Hal ini dikarenakan sistem pengajarannya bersifat individu.
o Sejak dini murid sudah diajarkan ajaran agama sehingga dapat mengerti dan memahami ajaran agama yang dianutnya.
o Oleh karena pendidikan berlangsung pada sore hari maka itu berarti murid dapat melakukan hal yang positif.
o Dapat manambah banyak teman sehingga dengan begitu murid dapat belajar sosialisasi.
Kelemahan dari pendidikan Langgar, yaitu
o Guru dianggap orang yang paling benar dan tahu segalanya. Hal ini dikarenakan apa yang dikatakan oleh guru akan selalu diikuti dan ditiru oleh murid.
o Guru sulit untuk mengatasi kegaduhan karena sistem pengajaran yang individual.
Sumbangan dari pendidikan langgar, yaitu
o Sejak dini anak-anak telah diajarkan ajaran agama yang dianutnya (dalam hal ini Agama Islam).
o Sebagai salah satu sarana yang berfungsi untuk mengarahkan anak-anak pada hal yang positif serta dapat belajar bersosialisasi.
2. Model Pendidikan Pesantren
Ciri-ciri pendidikan di Pesantren yaitu
o Kyai adalah fungsionaris tunggal dalam pesantren sehingga Kyai merangkap sebagai pendiri, pelaksana dan sekaligus guru.
o Badal adalah santri senior yang dipercaya oleh Kyai dan biasanya diangkat sebagai wakilnya.
o Santri adalah sebutan bagi pelajar yang menuntut ilmu di pesantren.
o Di samping pelajaran yang bersifat umum namun yang paling di prioritaskan adalah pelajaran agama Islam.
o Pesantren pada dasarnya tidak mengenal batasan umur dan jangka waktu pendidikan. Sehingga santri dapat berpindah dari satu pesantren ke pesantren yang lain guna memperoleh ilmu sebanyak-banyaknya. Hal ini di latar belakangi pada salah satu hadis yang berbunyi “Uthlubul’ilma, minal mahdi’ilalah di (artinya ”tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai ke liang lahat”). Jadi dapat disimpulkan bahwa pendidikan di pesantren adalah pendidikan seumur hidup atau Long Life Education.
o Di lingkungan sebuah pesantren terdapat sebuah Mesjid yang digunakan untuk kegiatan kemasyarakatan, tempat tinggal Kyai, asrama untuk para santri dan ruangan-ruangan belajar.
o Ijazah yang dikeluarkan tidak diakui oleh pemerintah sehingga para alumni tidak bisa untuk menjadi pegawai negeri.
Kelebihan dari pendidikan di Pesantren yaitu
o Terciptanya hubungan yang akrab antara Kyai dan santri. Hal ini mngingat bahwa mereka hidup dalam satu lingkungan tempat tinggal.
o Pesantren dapat diibaratkan sebagai asrama sehingga dapat melatih santri untuk hidup mandiri, tanggung jawab, disiplin, solidaritas dan gotong royong.
o Pendidikan pesantren bersifat terbuka sehingga siapa saja dapat mendalami ajaran agama.
o Pendidikan pesantren tergolong bebas, artinya tidak ada batasan umur.
o Tingkah laku santri dapat selalu diawasi oleh Kyai sehingga pesantren dapat berfungsi sebagai “senjata” untuk menangkal adanya pengaru-pengaruh buruk.
Kelemahan dari pendidikan di Pesantren yaitu
o Kepemimpinan bersifat sentralistis yang mana segala peraturan dan keputusan berdasar pada pemimpin atau Kyai.
o Kurangnya pelajaran umum karena lebih berorientasi pada ajaran agama.
o Kurikulumnya belum teratur dan menggunakan kurikulum yang dikembangkan sendiri. Hal ini dikarenakan santrilah yang menentukan sendiri berapa lama ia mengikuti pelajaran dalam sebuah pesantren.
o Dapat menimbulkan sikap fanatik karena dalam proses belajar lebih berorientasi ke agama.
o Para santri tidak memiliki kebebasan karena segala tingkah lakunya diawasi oleh guru atau Kyai . hal ini dikarenakan antara santri dan Kyai tinggal dalam satu lingkungan.
o Tidak adanya ijazah yang diakui oleh pemerintah.
Sumbangan dari pendidikan di Pesantren yaitu
o Pendidikan di pesantren merupakan sarana pembentukan kepribadian yang berakhlak sesuai dengan ajaran agama Islam.
3. Model Pendidikan Madrasah
Pendidikan Islam melalui Madrasah, muncul sekitar abad ke 20. Madrasah merupakan lembaga pendidikan Islam yang mandiri, di kelola oleh pemerintah dan juga badan swasta (masyarakat).
Ciri-ciri pendidikan di madrasah yaitu
o Merupakan lembaga yang dikelola oleh swasta dengan mengikuti aturan pemerintah.
o Pelajaran yang diberikan bukan hanya pelajaran yang bersifat keagamaan melainkan juga pelajaran yang bersifat umum (sama halnya dengan Sekolah Umum).
o Madrasah memiliki batas umur. Apabila umur 6–12 tergolong dalam Madrasah Ibtidaiyah, 13–15 tergolong dalam Madrasah Tsanawiyah dan 16 – 18 tergolong dalam Madrasah Alliyah.
o Murid diharuskan bayar uang sekolah.
o Memiliki kurikulum sehingga rencana pembelajaran menjadi jelas dan teratur.
o Ijazah yang dikeluarkan diakui oleh pemerintah.
Kelebihan dari pendidikan di madrasah yaitu
o Mengacu pada kurikulum yang telah ditentukan sehingga rencana pembelajaran menjadi jelas dan teratur.
Kelemahan dari pendidikan di madrasah yaitu
o Oleh karena adanya pembatasan umur maka tidak semua orang bisa masuk ke madrasah.
o Telah mengenal adanya administrasi sekolah.
Sumbangan dari pendidikan di Madrasah yaitu :
o Siswa dapat mengenal administrasi sekolah.
BAB III
KESIMPULAN
Hakikat dari Pendidikan Islam ialah pendidikan yang berdasarkan atas ajaran agama Islam, yang selalu menekankan pada nilai-nilai kebenaran. Tujuan dari Pendidikan Islam ialah ingin melahirkan manusia-manusia yang berpendidikan dan berahlak. Pendidikan Islam memberi dorongan pada anak didik untuk menuju kebaikan dan pencapaian kesempurnaan hidup, baik dalam hubungan dengan Tuhan, sesama, maupun dengan alam semesta. Dasar dalam Pendidikan Islam adalah ajaran Islam, maka maka kitab Al-Quran adalah pedoman yang selau digunakan dalam pengajaran Islam.
Langgar dan Pesantren merupakan model pendidikan Islam awal. Melalui pesantren dan langgar ini para murid, mendapatkan pendidikan seputar ajaran agama Islam. Pada perkembangan selanjutnya, muncullah Madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam yang berdiri sendiri. Madrasah merupakan lembaga pendidikan agama Islam yang dikelola oleh swasta dengan mengikuti aturan pemerintah, yang mana dalam kurikulumnya tidak hanya memuat ajaran agama saja, tetapi juga pengetahuan lainnya. Di Madrasah mata pelajaran agama lebih banyak dibandingkan dengan mata pelajaran agama pada sekolah umum.
Daftar Pustaka
Bradjanagara, Sutedjo. 1956. Sejarah Pendidikan Indnesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Busyairi, Ahmad. 1987. Tantangan Pendidikan Islam. Yogya : UII.
Mestoko, Sumarsono. 1986. Pendidikan Indonesia dari Jaman ke Jaman. Jakarta : Balai Pustaka.
Prasodjo, Sudjoko. 1974. Profil Pesantren. Jakarta.
Saleh, Sonhaji. 1988. Dinamika Pesantren. Jakarta : Guna Aksara.
Usa, Muslih (edtr). 1991. Pendidikan Islam di Indonesia. Yogya : Tiara Wacana.
Zieme K, Manfred. 1986. Pesantren dalam Perubahan Sosial. Jakarta : PT. Temprint.