Karaton, Keraton atau Kraton, berasal dari kata ka-ratu-an, yang berarti tempat tinggal ratu/raja. Sedang arti lebih luas, diuraikan secara sederhana, bahwa seluruh struktur dan bangunan wilayah Kraton mengandung arti berkaitan dengan pandangan hidup Jawa yang essensial, yakni Sangkan Paraning Dumadi (dari mana asalnya manusia dan kemana akhirnya manusia setelah mati). Garis besarnya, wilayah Kraton memanjang 5 km ke arah selatan hingga Krapyak dan 2 km ke utara berakhir di Tugu. Pada garis ini terdapat garis linier dualisme terbalik, sehingga bisa dibaca secara simbolik filosofis. Dari arah selatan ke utara, sebagai lahirnya manusia dari tempat tinggi ke alam fana, dan sebaliknya sebagai proses kembalinya manusia ke sisi Dumadi (Tuhan dalam pandangan Jawa).
Sedangkan Kraton sebagai jasmani dengan raja sebagai lambang jiwa sejati yang hadir ke dalam badan jasmani.Kraton menuju Tugu juga diartikan sebagai jalan hidup yang penuh godaan. Pasar Beringharjo melambangkan godaan wanita. Sedangkan godaan akan kekuasaan dilambangkan lewat Gedung Kepatihan. Keduanya terletak di sebelah kanan. Jalan lurus itu sendiri sebagai lambing manusia yang dekat dengan Pencipta (Sankan Paraning Dumadi).Secara sederhana, Tugu perlambangan Lingga (laki-laki) dan Krapyak sebagai Yoni (perempuan). Dan Kraton sebagai jasmani yang berasal dari keduanya.
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa kraton telah mengalami alih fungsi dari pusat seluruh dimensi kehidupan, dengan politik sebagai faktor dominan, menjadi pusat kebudayaan. Dahulu karena kraton memiliki kedudukannya sebagai pusat poltik, maka ia mampu menjadi patron (pelindung) dari semua dimensi kehidupan yang lain. Ia mampu menjadi pelindung dari usaha ekonomi, kehidupan agama, kehidupan agama,etika dan kebudayaan (yang dalam arti sempit sama dengan kesenian). Pada saat ini kalau orang menyebut kraton sebagai pusat kebudayaan diartikan pusat kesenian (Moedjanto, 1994 :109). Pada dasarnya kraton adalah pusat kehidupan atau inti dari kehidupan Yogyakarta. Pemerintahan berlangsung disana dan kraton juga sebagai tempat pemantau araus kehidupan masyarakat sekitarnya.
Pada masa lalu, pusat kekuasaan atau politik kraton memiliki kemampuan mengatur seluruh dimensi kehidupan. Dengan kekuasaan politik yang ada padanya ia mampu mengendalikan pemerintahan di seluruh negeri, yang diwarnai oleh berbagai macam simbol kebesaran seperti terlihat dalam berbagai upacara seremonial, alat-alat upacara yang mahal, prosesnya yang rumit, hadirnya begitu banyak pembesar dengan busana yang gemerlapan, prajurit yang berjumlah besar, atraksi kesenian yang halus, indah dan megah (Moedjanto, 1994 : 110).
Dengan kekuasaan yang besar pula maka kraton dapat menjadi patron bagi pelindung bagi perkembangan perekonomian. untuk pembiayaan kehidupan kraton, pemerintahan, pemeliharaan prajurit, penyelenggaraan upacara, pendirian bangunan dan pengembangan kebudayaan kraton diperlukan dana yang besar. Kedudukannya sebagai pusat politik, kraton memiliki kekuatan untuk menguasai aspek perekonomian dalam rangka memperoleh dana. Kebutuhan finansial melahirkan beberapa sumber penghasilan bagi kraton berupa, industri busana yang menghadirkan perkampungan Bludiran, industri batik yang tercermin dalam perkampungan Batikan, pertukangan yang melahirkan perkampungan Dagen (pertukangan).
Pada masa kepemimpinannya banyak didirikan pabrik gula di Yogyakarta, seluruhnya berjumlah 17 pabrik. Setiap pendirian pabrik memberikan peluang pada Sultan untuk menerima dana sebesar Rp 200.000,00. Hal ini mengakibatkan Sultan sangat kaya seringga sering dijuluki Sultan Sugih. Pada masa kepemimpinannnya juga merupakan masa transisi menuju modernisasi di Yogyakarta. Banyak sekolah modern didirikan dan karenanya putra-putranya diharuskan mengenyam pendidikan modern, bahkan hingga ke negeri Belanda
Sementara itu dalam sisi spiritual, kraton selalu menjadi pelindung kemajuan agama yang kemudian didirikannya masjid di dekat kraton. Di kraton dipekerjakan pula para ulama. Pegawai kraton (abdi dalem) tersebut dinamakan abdi pamethakan (pamethakan dari kata pethak=putih) sesuai dengan pakaian yang dikenakan para ulama pada masa lalu. Ketika pendidikan barat mulai masuk ke Indonesia, kraton mendirikan sekolah. Dapat kita lihat bahwa keberadaan kraton pada masa lalu berkiprah pada hampir semua bidang seperti politik, etika, ekonomi, dan kebudayaan yang memiliki arti luas, bukan hanya menyangkut kesenian.
Kraton Ngayogyakarta yang sering disebut sebagai Kasultanan Ngayogyakarta berdiri pada tahun 1755. Bangunan Kraton ini dipagari benteng yang luas jaraknya sekitar 5 Km. Pada empat titik pojok bangunan benteng ada bangunan kecil dan disebut sebagai pojok benteng. Pintu masuk ke benteng Kraton melalui apa yang disebut sebagai plengkung. Di dalam bangunan benteng selain ada bangunan Kraton, tempat tinggal Raja, disekitarnya ada sejumlah kampung sebagai tempat bermukim penduduk, yang pada jaman dulu merupakan abdi dalem Kraton, namun pada perkembangan berikutnya, hingga sekarang, Orang yang tinggal di dalam benteng Kraton tidak harus sebagai abdi dalem, tetapi bisa orang dari etnis lain, suku batak misalnya, yang bertempat tinggal di sana lantaran telah membeli tanah berikut bangunan rumah dari pemilik sebelumnya, atau, bisa juga kost atau kontrak di wilayah kecamatan Kraton di lingkungan, dalam istilah lokalnya, "njeron beteng" (dalam beteng). Jadi, pemukim yang tinggal di "njeron beteng" Kraton tidak selalu berkaitan dengan Kraton. Bisa sama sekali terpisah dan tak ada ikatan apapun, kecuali hanya bertempat tinggal karena telah membeli tanah berikut bangunan yang ada di "njeron beteng".
Sedangkan Kraton sebagai jasmani dengan raja sebagai lambang jiwa sejati yang hadir ke dalam badan jasmani.Kraton menuju Tugu juga diartikan sebagai jalan hidup yang penuh godaan. Pasar Beringharjo melambangkan godaan wanita. Sedangkan godaan akan kekuasaan dilambangkan lewat Gedung Kepatihan. Keduanya terletak di sebelah kanan. Jalan lurus itu sendiri sebagai lambing manusia yang dekat dengan Pencipta (Sankan Paraning Dumadi).Secara sederhana, Tugu perlambangan Lingga (laki-laki) dan Krapyak sebagai Yoni (perempuan). Dan Kraton sebagai jasmani yang berasal dari keduanya.
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa kraton telah mengalami alih fungsi dari pusat seluruh dimensi kehidupan, dengan politik sebagai faktor dominan, menjadi pusat kebudayaan. Dahulu karena kraton memiliki kedudukannya sebagai pusat poltik, maka ia mampu menjadi patron (pelindung) dari semua dimensi kehidupan yang lain. Ia mampu menjadi pelindung dari usaha ekonomi, kehidupan agama, kehidupan agama,etika dan kebudayaan (yang dalam arti sempit sama dengan kesenian). Pada saat ini kalau orang menyebut kraton sebagai pusat kebudayaan diartikan pusat kesenian (Moedjanto, 1994 :109). Pada dasarnya kraton adalah pusat kehidupan atau inti dari kehidupan Yogyakarta. Pemerintahan berlangsung disana dan kraton juga sebagai tempat pemantau araus kehidupan masyarakat sekitarnya.
Pada masa lalu, pusat kekuasaan atau politik kraton memiliki kemampuan mengatur seluruh dimensi kehidupan. Dengan kekuasaan politik yang ada padanya ia mampu mengendalikan pemerintahan di seluruh negeri, yang diwarnai oleh berbagai macam simbol kebesaran seperti terlihat dalam berbagai upacara seremonial, alat-alat upacara yang mahal, prosesnya yang rumit, hadirnya begitu banyak pembesar dengan busana yang gemerlapan, prajurit yang berjumlah besar, atraksi kesenian yang halus, indah dan megah (Moedjanto, 1994 : 110).
Dengan kekuasaan yang besar pula maka kraton dapat menjadi patron bagi pelindung bagi perkembangan perekonomian. untuk pembiayaan kehidupan kraton, pemerintahan, pemeliharaan prajurit, penyelenggaraan upacara, pendirian bangunan dan pengembangan kebudayaan kraton diperlukan dana yang besar. Kedudukannya sebagai pusat politik, kraton memiliki kekuatan untuk menguasai aspek perekonomian dalam rangka memperoleh dana. Kebutuhan finansial melahirkan beberapa sumber penghasilan bagi kraton berupa, industri busana yang menghadirkan perkampungan Bludiran, industri batik yang tercermin dalam perkampungan Batikan, pertukangan yang melahirkan perkampungan Dagen (pertukangan).
Pada masa kepemimpinannya banyak didirikan pabrik gula di Yogyakarta, seluruhnya berjumlah 17 pabrik. Setiap pendirian pabrik memberikan peluang pada Sultan untuk menerima dana sebesar Rp 200.000,00. Hal ini mengakibatkan Sultan sangat kaya seringga sering dijuluki Sultan Sugih. Pada masa kepemimpinannnya juga merupakan masa transisi menuju modernisasi di Yogyakarta. Banyak sekolah modern didirikan dan karenanya putra-putranya diharuskan mengenyam pendidikan modern, bahkan hingga ke negeri Belanda
Sementara itu dalam sisi spiritual, kraton selalu menjadi pelindung kemajuan agama yang kemudian didirikannya masjid di dekat kraton. Di kraton dipekerjakan pula para ulama. Pegawai kraton (abdi dalem) tersebut dinamakan abdi pamethakan (pamethakan dari kata pethak=putih) sesuai dengan pakaian yang dikenakan para ulama pada masa lalu. Ketika pendidikan barat mulai masuk ke Indonesia, kraton mendirikan sekolah. Dapat kita lihat bahwa keberadaan kraton pada masa lalu berkiprah pada hampir semua bidang seperti politik, etika, ekonomi, dan kebudayaan yang memiliki arti luas, bukan hanya menyangkut kesenian.
Kraton Ngayogyakarta yang sering disebut sebagai Kasultanan Ngayogyakarta berdiri pada tahun 1755. Bangunan Kraton ini dipagari benteng yang luas jaraknya sekitar 5 Km. Pada empat titik pojok bangunan benteng ada bangunan kecil dan disebut sebagai pojok benteng. Pintu masuk ke benteng Kraton melalui apa yang disebut sebagai plengkung. Di dalam bangunan benteng selain ada bangunan Kraton, tempat tinggal Raja, disekitarnya ada sejumlah kampung sebagai tempat bermukim penduduk, yang pada jaman dulu merupakan abdi dalem Kraton, namun pada perkembangan berikutnya, hingga sekarang, Orang yang tinggal di dalam benteng Kraton tidak harus sebagai abdi dalem, tetapi bisa orang dari etnis lain, suku batak misalnya, yang bertempat tinggal di sana lantaran telah membeli tanah berikut bangunan rumah dari pemilik sebelumnya, atau, bisa juga kost atau kontrak di wilayah kecamatan Kraton di lingkungan, dalam istilah lokalnya, "njeron beteng" (dalam beteng). Jadi, pemukim yang tinggal di "njeron beteng" Kraton tidak selalu berkaitan dengan Kraton. Bisa sama sekali terpisah dan tak ada ikatan apapun, kecuali hanya bertempat tinggal karena telah membeli tanah berikut bangunan yang ada di "njeron beteng".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar