Kamis, 29 Oktober 2009

HIKAYAT SULTANUL INJILAI DAN PAU-PAU RIKADONG

Ringkasan cerita :
Hikayat ini merupakan salah satu karya daerah yang berasal dari Sulawesi, intinya menceritakan tentang seekor burung Tekukur (Pau-pau Rikadong) dengan seorang raja, yakni Sultanul Injilai. Isinya berupa nasihat-nasihat berharga, karena burung tersebut sebenarnya merupakan seorang waliulah (utusan Allah) yang sedang menguji Sultanul Injilai. Banyak pesan-pesan moral yang dapat dipetik dari cerita ini.
Hikayat ini di mulai dengan menceritakan bahwa ada seorang raja yang bernama Sultanu Injilai, ia mempunyai seorang isteri yang bernama Siti Safiah dan dua orang putera, yakni bernama Abdul Jumali dan Abdul Julali.
Dikisahkanlah bahwa pada suatu hari Sultanu Injilai berburu bersama pakkalawing epuk (orang kepercayaannya) dan ia berhasil menangkap seekor burung Tekukur. Ketika akan menyembelih burung Tekukur tersebut ternyata burung itu dapat berbicara dan meminta supaya tidak dibunuh. Awalnya Sultanan Injlai tidak memperdulikan permohonan burung tersebut, namun akhirnya ia melepaskan karena dibohongi. Burung Tekukur berjanji akan memberitahukan sesuatu pada raja bila ia dilepaskan, tetapi setelah dilepas ternyata burung tersebut berbohong dan mengatakan bahwa Sultanu Injilai adalah seorang raja yang bodoh. Semua kebodohan raja yang dibeberkan oleh burung Tekukur tersebut akhirnya terdengar oleh para wali di istana sehingga ia pun dipecat dari jabatannya.
Setelah dipecat dari jabatannya, maka Sultanu Injilai beserta keluarganya meninggalkan negeri dan pergi sejauh mungkin. Akhirnya setelah berjalan jauh, sampailah mereka tempat Sultanu Injilai bertemu burung Tekukur tadi. Ia dan keluarganya beristirahat di bawah pohon yang merupakan tempat burung Tekukur bersarang bersama anak-anaknya. Abdul Julali melihat sarang burung itu dan meminta ayahnya untuk mengambil anak burung untuk dimain-mainkanya. Karena terus merengek sambil menangis dengan terpaksalah Sultanu Injilai mengambil anak burung tersebut. Selang beberapa waktu datanglah burung Tekukur dan melihat anaknya dijadikan mainan, sedihlah hatinya dan ia pun memohon kepada Allah supaya kelarga Sultanu Injilai juga tercerai berai.
Ternyata doa dan permohonan burung tekukur tadi dikabulkan. Keluarga Sultanu Injialai tercerai berai ketika akan menyeberang sungai. Sang isteri yang telah sampai di seberang terlebih dahulu, di bawa oleh seorang pedagang. Kedua anaknya yang masih tertinggal di bawa oleh sepasang suami-isteri penjala ikan disungai tersebut. Dan Ia sendiri hanya dapat meratapi nasibnya dan berjalan tak tentu arahnya.
Kemudian diceritakan bahwa ada sebuah kerajaan yang bernama Biladu Tasnifi, kerajaan ini sedang berduka karena rajanya telah mangkat. Dan menurut tradisi raja akan di gantikan oleh seseorang yang nantinya akan di bawa oleh seekor gajah yang bertugas mencari penbgganti raja tersebut. Singkat cerita, akhirnya gajah tersebut bertemu dengan Sultanu Injali dan ia pun di nobatkan sebagai raja Biladu Tasnifi. Di ceritakan pula bahwa pada masanya kerajaan tersebut makmur dan tersohor.
Ketika menjabat sebagai raja ia pun bertemu kembali dengan isteri dan anak-anaknya. Anak-anaknya sempat menjadi pakkalawing epuk (orang kepercayaan raja) dan di tuduh memperkosa isteri seorang pedagang yang ternyata adalah isterinya. Cerita ini pun berakhir dengan bahagia, di mana keluarga Sultanu Injali dapat bersatu kembali.

(Sumber : Mulya, K. Abdul. 1985. Hikayat Sultanul Injilai dan Pau-pau Rikadong. Jakarta : Depdikbud)

Corak Penulisan :
o Rajasentris : Menceritakan tentang lika-liku kehidupan seorang raja (Sultanu Injilai). Mulai dari kehidupannya di kerajaannya yang pertama hingga ia dapat menjadi raja di sebuah negeri baru.
o Religiomagis : Bercerita tentang hidup beragama yang telah percaya pada
Allah dan mengandung pesan-pesan moral.
o Keratonsentris : Menceritakan tentang kehidupan Sultanu Injilai di
kerajaannya yang lama dan yang baru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar