Senin, 11 April 2011

Konsep Pembangunan Keraton Yogyakarta

Karaton, Keraton atau Kraton, berasal dari kata ka-ratu-an, yang berarti tempat tinggal ratu/raja. Sedang arti lebih luas, diuraikan secara sederhana, bahwa seluruh struktur dan bangunan wilayah Kraton mengandung arti berkaitan dengan pandangan hidup Jawa yang essensial, yakni Sangkan Paraning Dumadi (dari mana asalnya manusia dan kemana akhirnya manusia setelah mati). Garis besarnya, wilayah Kraton memanjang 5 km ke arah selatan hingga Krapyak dan 2 km ke utara berakhir di Tugu. Pada garis ini terdapat garis linier dualisme terbalik, sehingga bisa dibaca secara simbolik filosofis. Dari arah selatan ke utara, sebagai lahirnya manusia dari tempat tinggi ke alam fana, dan sebaliknya sebagai proses kembalinya manusia ke sisi Dumadi (Tuhan dalam pandangan Jawa).
Sedangkan Kraton sebagai jasmani dengan raja sebagai lambang jiwa sejati yang hadir ke dalam badan jasmani.Kraton menuju Tugu juga diartikan sebagai jalan hidup yang penuh godaan. Pasar Beringharjo melambangkan godaan wanita. Sedangkan godaan akan kekuasaan dilambangkan lewat Gedung Kepatihan. Keduanya terletak di sebelah kanan. Jalan lurus itu sendiri sebagai lambing manusia yang dekat dengan Pencipta (Sankan Paraning Dumadi).Secara sederhana, Tugu perlambangan Lingga (laki-laki) dan Krapyak sebagai Yoni (perempuan). Dan Kraton sebagai jasmani yang berasal dari keduanya.
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa kraton telah mengalami alih fungsi dari pusat seluruh dimensi kehidupan, dengan politik sebagai faktor dominan, menjadi pusat kebudayaan. Dahulu karena kraton memiliki kedudukannya sebagai pusat poltik, maka ia mampu menjadi patron (pelindung) dari semua dimensi kehidupan yang lain. Ia mampu menjadi pelindung dari usaha ekonomi, kehidupan agama, kehidupan agama,etika dan kebudayaan (yang dalam arti sempit sama dengan kesenian). Pada saat ini kalau orang menyebut kraton sebagai pusat kebudayaan diartikan pusat kesenian (Moedjanto, 1994 :109). Pada dasarnya kraton adalah pusat kehidupan atau inti dari kehidupan Yogyakarta. Pemerintahan berlangsung disana dan kraton juga sebagai tempat pemantau araus kehidupan masyarakat sekitarnya.
Pada masa lalu, pusat kekuasaan atau politik kraton memiliki kemampuan mengatur seluruh dimensi kehidupan. Dengan kekuasaan politik yang ada padanya ia mampu mengendalikan pemerintahan di seluruh negeri, yang diwarnai oleh berbagai macam simbol kebesaran seperti terlihat dalam berbagai upacara seremonial, alat-alat upacara yang mahal, prosesnya yang rumit, hadirnya begitu banyak pembesar dengan busana yang gemerlapan, prajurit yang berjumlah besar, atraksi kesenian yang halus, indah dan megah (Moedjanto, 1994 : 110).
Dengan kekuasaan yang besar pula maka kraton dapat menjadi patron bagi pelindung bagi perkembangan perekonomian. untuk pembiayaan kehidupan kraton, pemerintahan, pemeliharaan prajurit, penyelenggaraan upacara, pendirian bangunan dan pengembangan kebudayaan kraton diperlukan dana yang besar. Kedudukannya sebagai pusat politik, kraton memiliki kekuatan untuk menguasai aspek perekonomian dalam rangka memperoleh dana. Kebutuhan finansial melahirkan beberapa sumber penghasilan bagi kraton berupa, industri busana yang menghadirkan perkampungan Bludiran, industri batik yang tercermin dalam perkampungan Batikan, pertukangan yang melahirkan perkampungan Dagen (pertukangan).
Pada masa kepemimpinannya banyak didirikan pabrik gula di Yogyakarta, seluruhnya berjumlah 17 pabrik. Setiap pendirian pabrik memberikan peluang pada Sultan untuk menerima dana sebesar Rp 200.000,00. Hal ini mengakibatkan Sultan sangat kaya seringga sering dijuluki Sultan Sugih. Pada masa kepemimpinannnya juga merupakan masa transisi menuju modernisasi di Yogyakarta. Banyak sekolah modern didirikan dan karenanya putra-putranya diharuskan mengenyam pendidikan modern, bahkan hingga ke negeri Belanda
Sementara itu dalam sisi spiritual, kraton selalu menjadi pelindung kemajuan agama yang kemudian didirikannya masjid di dekat kraton. Di kraton dipekerjakan pula para ulama. Pegawai kraton (abdi dalem) tersebut dinamakan abdi pamethakan (pamethakan dari kata pethak=putih) sesuai dengan pakaian yang dikenakan para ulama pada masa lalu. Ketika pendidikan barat mulai masuk ke Indonesia, kraton mendirikan sekolah. Dapat kita lihat bahwa keberadaan kraton pada masa lalu berkiprah pada hampir semua bidang seperti politik, etika, ekonomi, dan kebudayaan yang memiliki arti luas, bukan hanya menyangkut kesenian.
Kraton Ngayogyakarta yang sering disebut sebagai Kasultanan Ngayogyakarta berdiri pada tahun 1755. Bangunan Kraton ini dipagari benteng yang luas jaraknya sekitar 5 Km. Pada empat titik pojok bangunan benteng ada bangunan kecil dan disebut sebagai pojok benteng. Pintu masuk ke benteng Kraton melalui apa yang disebut sebagai plengkung. Di dalam bangunan benteng selain ada bangunan Kraton, tempat tinggal Raja, disekitarnya ada sejumlah kampung sebagai tempat bermukim penduduk, yang pada jaman dulu merupakan abdi dalem Kraton, namun pada perkembangan berikutnya, hingga sekarang, Orang yang tinggal di dalam benteng Kraton tidak harus sebagai abdi dalem, tetapi bisa orang dari etnis lain, suku batak misalnya, yang bertempat tinggal di sana lantaran telah membeli tanah berikut bangunan rumah dari pemilik sebelumnya, atau, bisa juga kost atau kontrak di wilayah kecamatan Kraton di lingkungan, dalam istilah lokalnya, "njeron beteng" (dalam beteng). Jadi, pemukim yang tinggal di "njeron beteng" Kraton tidak selalu berkaitan dengan Kraton. Bisa sama sekali terpisah dan tak ada ikatan apapun, kecuali hanya bertempat tinggal karena telah membeli tanah berikut bangunan yang ada di "njeron beteng".





PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan bagian terpenting dari kehidupan manusia, yang mana dengan belajar maka itu berarti bahwa kegiatan menuju pendewasaan dalam berpikir untuk menuju kehidupan yang lebih berarti. Pendidikan dapat membedakan manusia dengan hewan. Hewan juga ”belajar”, akan tetapi lebih ditentukan oleh instink. Sedangkan bagi manusia, belajar berarti rangkaian kegiatan menuju ”pendewasaan” untuk kehidupan yang lebih baik dan berarti.
Pendidikan Islam mulai berkembang sekitar abad ke 14 dan 15 M, ketika Kerajaan-kerajaan Islam berkembang di tanah air. Perkembangan Agama Islam di Nusantara tidak terlepas dari jasa-jasa Wali Songo. Berbagai saluran atau sarana penyebaran mereka gunakan. Salah satunya ialah melalui pendidikan. Apa yang dilakukan oleh para Wali Songo dalam menyebarkan Agama Islam ini sangat menarik sehingga banyak masyarakat yang berminat dan tertarik pasa ajaran mereka. Seiring dengan perkembangan Agama Islam, maka Pendidikan Islam juga mengalami perkembangan.
Pada awalnya pendidikan Islam dilakukan.melalui pengajaran di langgar dan pesantern-pesantren. Di langgar dan pesantren ini para murid, mendapat pendidikan hanya seputar ajaran agama Islam saja. Dasar pendidikannya adalah ajaran agama, maka yang diajarkannya pun hanya hal-hal yang berkaitan dengan ajaran-ajaran agama Islam.
Dalam perkembangan selanjutnya, di Indonesia mulai mengenal persekolahan resmi. Pendidikan Islam tidak hilang begitu saja. Muncullah Madrasah, yaitu sekolah yang dikelola oleh pemerintah atau badan swasta (masyarakat). Dalam madrasah tidak hanya mengajarkan ajaran agama Islam saja, tetapi juga ilmu pengetahuan lainnya. Pendidikan Islam melalui pesantren-pesantren sampai sekarang masih ada, dan melalui langgar juga masih dapat di jumpai di Masjid-masjid, yang lebih di kenal dengan sebutan TPA.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana hakikat dan perkembangan pendidikan Islam?
2. Bagaimanakah model pendidikan Langgar, Pesantren dan Madrasah?




























BAB II
PEMBAHASAN
A. Hakikat dan Perkembangan Pendidikan Islam
1. Hakikat Pendidikan Islam
Hakikat pendidikan Islam tidak terlepas dari hakikat Pendidikan secara umum. Dalam arti umum pendidikan mencakup segala usaha dan perbuatan dari generasi tua ke generasi muda untuk mengalihkan pengalaman, pengetahuan, dan ketrampilannya untuk dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya dan menjadi manusia yang seutuhnya. Menurut T. Raka Joni, hakikat Pendidikan meliputi 5 aspek yaitu :
a. Merupakan proses interaksi manusiawi yang ditandai dengan keseimbangan antara kedaulatan subjek didik dengan kewibawaan pendidik.
b. Merupakan usaha penyiapan subjek didik menghadapi lingkungan hidup yang mengalami perubahan yang semakin pesat.
c. Meningkatkan kehidupan pribadi dan masyarakat.
d. Berlangsung seumur hidup
e. Merupakan hubungan dalam menerapkan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan dan teknologi bagi pembentukan manusia seutuhnya.
Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa pendidikan bukan sekedar transfer pengetahuan saja tetapi juga sekaligus sebagai transfer nilai-nilai. Dengan demikian pendidikan dapat menjadi penolong dalam kehidupan manusia. Sama halnya dengan Pendidikan Islam, yang menjadi tujuan utama ialah transfer niali-nilai keagaaman yang ingin membentuk manusia yang berakhlak.
Hakikat pendidikan Islam juga tidak bisa dilepaskan dari hakikat ajaran agama Islam itu sendiri. Hakikat ajaran agama Islam ialah patuh dan taqwa kepada Allah. Hal yang diutamakan dalam ajaran Islam adalah kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan oleh umat Islam. Kewajiban-kewajiban ini dikenal dengan sebutan fikh yang terdiri atas lima hal, yakni:
a) Syahadah, yaitu mengucapkan kalimat bahwa “Tidak ada Tuhan yang harus disembah, melainkan Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya”.
b) Melakukan shalat lima waktu.
c) Membayar zakat kepada fakir miskin.
d) Berpuasa dalam bulan Ramadhan.
e) Pergi naik haji bagi yang mampu.
Dari uraian mengenai hakikat ajaran Islam tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa hakikat pendidikan Islam pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan hakikat ajaran Islam, kerena pendidikan Islam harus di dasarkan atas nilai-nilai yang digali dari sumber Islam yang sebenarnya. Pendidikan Islam berusaha mengantarkan manusia untuk mencapai keseimbangan pribadi secara menyeluruh dan berupaya untuk mengembangkan semua aspek dalam kehidupan manusia yang meliputi aspek spritual, intelektual, imajinasi, keilmiahan, dll.
Tujuan dari pendidikan Islam ialah memberi dorongan untuk menuju kebaikan dan pencapaian kesempurnaan hidup, baik dalam hubungan dengan Tuhan, sesama, maupun dengan alam semesta. Pada intinya Pendidikan Islam ingin melahirkan manusia-manusia yang berahlak dan berbudi pekerti luhur, sebagaimana yang telah tertuang dalam ajaran agama Islam. Pengajaran dalam pendidikan Islam lebih menekankan pada ajaran agama, maka kitab Al-Quran adalah pedoman yang selalu digunakan dalam pengajaran Islam.
2. Perkembangan Pendidikan Islam
Masuk dan berkembangnya Agama Islam di Indonesia sekitar abad ke 14 dan 15 melalui berbagai saluran. Salah satunya ialah melalui pendidikan, tokoh yang menggunakan saluran ini ialah para Wali Songo. Cara dan metode yang mereka gunakan sangat menarik bagi masyarakat Indonesia pada saat itu.
. Pengajaran agama Islam awalnya dilakukan melalui Pesantren-pesantren dan pengajaran Langgar. Melalui pesantren dan langgar ini para murid, mendapatkan pendidikan seputar ajaran agama Islam. Dasar dari pengajaran di langgar dan pesantren ini adalah ajaran Islam, maka yang diajarkan hanya hal-hal yang berhubungan dengan agama Islam saja.
Pada perkembangan selanjutnya, muncullah Madrasah-madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam yang berdiri sendiri (awal abad ke-20). Madrasah merupakan lembaga pendidikan agama Islam yang kurikulumnya selain memuat materi pelajaran agama, juga memuat materi pelajaran umum. Di Madrasah pelajaran agama tetap diutamakan, mata pelajaran agama lebih banyak dibandingkan dengan mata pelajaran agama pada sekolah umum.
B. Model Pendidikan Langgar, Pesantren dan Madrasah
1. Model Pendidikan Langgar
Pendidikan di Langgar termasuk permulaan, yang mana disinilah para murid mulai belajar abjad Arab, mengeja ayat-ayat Al Quran dengan pelafalan yang benar dan membacanya dengan nada atau irama.
 Ciri-ciri pendidikan di Langgar adalah
o Pelajaran yang diberikan adalah pelajaran agama yang masih bersifat dasar atau elementer. Dimulai dengan membaca abjad Arab dengan pelafalan dan intonasi yang benar serta cara menulis.
o Murid yang tergabung biasanya berumur 6–12 tahun sehingga biasanya dalam membaca hanya mengikuti atau menirukan apa yang telah dibacakan oleh gurunya.
o Murid-murid diajar secara individual sehingga apabila ada kesulitan dan kesalahan maka guru dapat langsung membantu dan mengoreksinya
o Pelajaran biasanya berlangsung pada sore hari dan selama 2 jam.
o Tidak dipungut biaya namun tergantung kerelaan atau keikhlasan dari orang tua murid.
o Pada umunya pelajaran berlangsung sekitar 1 tahun namun semuanya tergantung pada kemampuan murid.
o Apabila murid dinyatakan tamat maka biasanya diadakan selamatan atau yang biasa dikenal dengan Khatam.




 Kelebihan dari pendidikan Langgar, yaitu
o Pendidikan di Langgar merupakan dasar atau awal dari pengajaran Islam.
o Adanya hubungan yang erat antara guru dan murid serta guru dapat langsung membantu dan mengoreksi apabila ada murid yang mengalami kesulitan. Hal ini dikarenakan sistem pengajarannya bersifat individu.
o Sejak dini murid sudah diajarkan ajaran agama sehingga dapat mengerti dan memahami ajaran agama yang dianutnya.
o Oleh karena pendidikan berlangsung pada sore hari maka itu berarti murid dapat melakukan hal yang positif.
o Dapat manambah banyak teman sehingga dengan begitu murid dapat belajar sosialisasi.
 Kelemahan dari pendidikan Langgar, yaitu
o Guru dianggap orang yang paling benar dan tahu segalanya. Hal ini dikarenakan apa yang dikatakan oleh guru akan selalu diikuti dan ditiru oleh murid.
o Guru sulit untuk mengatasi kegaduhan karena sistem pengajaran yang individual.
 Sumbangan dari pendidikan langgar, yaitu
o Sejak dini anak-anak telah diajarkan ajaran agama yang dianutnya (dalam hal ini Agama Islam).
o Sebagai salah satu sarana yang berfungsi untuk mengarahkan anak-anak pada hal yang positif serta dapat belajar bersosialisasi.
2. Model Pendidikan Pesantren
 Ciri-ciri pendidikan di Pesantren yaitu
o Kyai adalah fungsionaris tunggal dalam pesantren sehingga Kyai merangkap sebagai pendiri, pelaksana dan sekaligus guru.
o Badal adalah santri senior yang dipercaya oleh Kyai dan biasanya diangkat sebagai wakilnya.
o Santri adalah sebutan bagi pelajar yang menuntut ilmu di pesantren.
o Di samping pelajaran yang bersifat umum namun yang paling di prioritaskan adalah pelajaran agama Islam.
o Pesantren pada dasarnya tidak mengenal batasan umur dan jangka waktu pendidikan. Sehingga santri dapat berpindah dari satu pesantren ke pesantren yang lain guna memperoleh ilmu sebanyak-banyaknya. Hal ini di latar belakangi pada salah satu hadis yang berbunyi “Uthlubul’ilma, minal mahdi’ilalah di (artinya ”tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai ke liang lahat”). Jadi dapat disimpulkan bahwa pendidikan di pesantren adalah pendidikan seumur hidup atau Long Life Education.
o Di lingkungan sebuah pesantren terdapat sebuah Mesjid yang digunakan untuk kegiatan kemasyarakatan, tempat tinggal Kyai, asrama untuk para santri dan ruangan-ruangan belajar.
o Ijazah yang dikeluarkan tidak diakui oleh pemerintah sehingga para alumni tidak bisa untuk menjadi pegawai negeri.
 Kelebihan dari pendidikan di Pesantren yaitu
o Terciptanya hubungan yang akrab antara Kyai dan santri. Hal ini mngingat bahwa mereka hidup dalam satu lingkungan tempat tinggal.
o Pesantren dapat diibaratkan sebagai asrama sehingga dapat melatih santri untuk hidup mandiri, tanggung jawab, disiplin, solidaritas dan gotong royong.
o Pendidikan pesantren bersifat terbuka sehingga siapa saja dapat mendalami ajaran agama.
o Pendidikan pesantren tergolong bebas, artinya tidak ada batasan umur.
o Tingkah laku santri dapat selalu diawasi oleh Kyai sehingga pesantren dapat berfungsi sebagai “senjata” untuk menangkal adanya pengaru-pengaruh buruk.
 Kelemahan dari pendidikan di Pesantren yaitu
o Kepemimpinan bersifat sentralistis yang mana segala peraturan dan keputusan berdasar pada pemimpin atau Kyai.
o Kurangnya pelajaran umum karena lebih berorientasi pada ajaran agama.
o Kurikulumnya belum teratur dan menggunakan kurikulum yang dikembangkan sendiri. Hal ini dikarenakan santrilah yang menentukan sendiri berapa lama ia mengikuti pelajaran dalam sebuah pesantren.
o Dapat menimbulkan sikap fanatik karena dalam proses belajar lebih berorientasi ke agama.
o Para santri tidak memiliki kebebasan karena segala tingkah lakunya diawasi oleh guru atau Kyai . hal ini dikarenakan antara santri dan Kyai tinggal dalam satu lingkungan.
o Tidak adanya ijazah yang diakui oleh pemerintah.
 Sumbangan dari pendidikan di Pesantren yaitu
o Pendidikan di pesantren merupakan sarana pembentukan kepribadian yang berakhlak sesuai dengan ajaran agama Islam.
3. Model Pendidikan Madrasah
Pendidikan Islam melalui Madrasah, muncul sekitar abad ke 20. Madrasah merupakan lembaga pendidikan Islam yang mandiri, di kelola oleh pemerintah dan juga badan swasta (masyarakat).
 Ciri-ciri pendidikan di madrasah yaitu
o Merupakan lembaga yang dikelola oleh swasta dengan mengikuti aturan pemerintah.
o Pelajaran yang diberikan bukan hanya pelajaran yang bersifat keagamaan melainkan juga pelajaran yang bersifat umum (sama halnya dengan Sekolah Umum).
o Madrasah memiliki batas umur. Apabila umur 6–12 tergolong dalam Madrasah Ibtidaiyah, 13–15 tergolong dalam Madrasah Tsanawiyah dan 16 – 18 tergolong dalam Madrasah Alliyah.
o Murid diharuskan bayar uang sekolah.
o Memiliki kurikulum sehingga rencana pembelajaran menjadi jelas dan teratur.
o Ijazah yang dikeluarkan diakui oleh pemerintah.
 Kelebihan dari pendidikan di madrasah yaitu
o Mengacu pada kurikulum yang telah ditentukan sehingga rencana pembelajaran menjadi jelas dan teratur.


 Kelemahan dari pendidikan di madrasah yaitu
o Oleh karena adanya pembatasan umur maka tidak semua orang bisa masuk ke madrasah.
o Telah mengenal adanya administrasi sekolah.
 Sumbangan dari pendidikan di Madrasah yaitu :
o Siswa dapat mengenal administrasi sekolah.




































BAB III

KESIMPULAN


Hakikat dari Pendidikan Islam ialah pendidikan yang berdasarkan atas ajaran agama Islam, yang selalu menekankan pada nilai-nilai kebenaran. Tujuan dari Pendidikan Islam ialah ingin melahirkan manusia-manusia yang berpendidikan dan berahlak. Pendidikan Islam memberi dorongan pada anak didik untuk menuju kebaikan dan pencapaian kesempurnaan hidup, baik dalam hubungan dengan Tuhan, sesama, maupun dengan alam semesta. Dasar dalam Pendidikan Islam adalah ajaran Islam, maka maka kitab Al-Quran adalah pedoman yang selau digunakan dalam pengajaran Islam.
Langgar dan Pesantren merupakan model pendidikan Islam awal. Melalui pesantren dan langgar ini para murid, mendapatkan pendidikan seputar ajaran agama Islam. Pada perkembangan selanjutnya, muncullah Madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam yang berdiri sendiri. Madrasah merupakan lembaga pendidikan agama Islam yang dikelola oleh swasta dengan mengikuti aturan pemerintah, yang mana dalam kurikulumnya tidak hanya memuat ajaran agama saja, tetapi juga pengetahuan lainnya. Di Madrasah mata pelajaran agama lebih banyak dibandingkan dengan mata pelajaran agama pada sekolah umum.











Daftar Pustaka

Bradjanagara, Sutedjo. 1956. Sejarah Pendidikan Indnesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Busyairi, Ahmad. 1987. Tantangan Pendidikan Islam. Yogya : UII.
Mestoko, Sumarsono. 1986. Pendidikan Indonesia dari Jaman ke Jaman. Jakarta : Balai Pustaka.
Prasodjo, Sudjoko. 1974. Profil Pesantren. Jakarta.
Saleh, Sonhaji. 1988. Dinamika Pesantren. Jakarta : Guna Aksara.
Usa, Muslih (edtr). 1991. Pendidikan Islam di Indonesia. Yogya : Tiara Wacana.
Zieme K, Manfred. 1986. Pesantren dalam Perubahan Sosial. Jakarta : PT. Temprint.

PEMIKIRAN MENGENAI KETAHANAN EKONOMI REPUBLIK INDONESIA

Pada saat awal pertumbuhan ekonomi RI, Pemerintah dihadapkan pada permasalahan dan situasi yang kacau akibat pendudukan Jepang, Pemerintah tidak sempat melakukan tindakan-tindakan secara konsepsional. Baru setelah bulan Februari 1946, Pemerintah mulai memprakarsai usaha untuk memecahkan masalah-masalah yang mendesak. Usaha ini merupakan perintisan usaha pemecahan masalah secara menyeluruh dan memperoleh kesepakatan yang bulat di dalam menanggulangi masalah-masalah ekonomi yang mendesak. Masalah yang dihadapi pemerintah yaitu:
1. Masalah produksi dan distribusi bahan makanan.
2. Masalah sandang.
3. Status dan administrasi perkebunan-perkebunan.
Sejak adanya PPBM (Persediaan dan Pembagian Bahan Makanan) maka dihapusnya larangan pengiriman bahan-bahan antar karesidenan kecuali beras. Untuk beras masih harus mendapat izin dari Jawatan Kemakmuran. Tentang administrasi perkebunan, kabinet Sjahrir kedua persoalan tersebut bisa diselesaikan. Semua perkebunan dikuasai negaara dengan system sentralisasi di bawah pengawasan Menteri Kemakmuran.
Konferensi ekonomi kedua diadakan di Solo tanggal 6 Mei 1946.Masalah yang dibahas yaitu masalah keuangan Negara, pengendalian harga, distribusi dan alokasi tenaga manusia. Dalam konferensi ini rencana konkrit yang disarankan oleh Moh.Hatta adalah rehabilitasi pabrik gula, karena gula merupakan bahan ekspor yang penting dan pengusahaanya harus dikuasai Negara dan hasil dari ekspor ini bisa ditukar dengan barang yang dibutuhkan oleh RI.
Berdasar Peraruran Pemerintah noNo. 3/1946 tanggal 21 Mei 1946 dibentuk Badan Penyelenggara Perusahaan Gula Negara (BPPBN) Dengan status perusahaan Negara. BPPBN dipimpin oeleh Notosudirjo, peraturan disusun dengan Peraturan Pemerintah No. 4 tahun 1946, tanggal 5 Juni 1946 , mengenai pembentukan Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) yang mempunyai tugas:
1. Meneruskan pekerjaan bekas perusahaan perkebunan yang dikuasai oleh Jepang.
2. Mengawasi perkebunan bekas milik Belanda.
3. Mengawasi perkebunan-perkebunan lainya, dengan cara mengawasi mutu produksinya.
Atas inisiatif Menteri Kemakmuran dr. A. K. Gani pada tanggal 19 Januari 1947 dibentuk Planning Boarad (Badan Perancang Ekonomi) yang bertugas membuat rencana pembangunan ekonomi untuk jangka waktu 2 sampai 3 tahun. Perencanaanya untuk mengkoordinasi dan merasionalisasi semua cabang produksi dalam badan hukum. Setelah Badan Perencana besidang dr. Gani mengumumkan rencana pembangunan sepuluh tahun antara lain.
1. Semua bangunan umum, perkebunan dan industri menjadi milik negara.
2. Bangunan vital milik asing akan dinasionalisasi dangan pembayaran ganti rugi. Perusahaan milik Jepang disita sebagai ganti rugi RI.
3. Perusahaan modal asing lainya akan dikembalikan pada yang berhak.
Untuk membiayai rencana pembangunan ekonomi ini Pemerintah akan mengerahkan dana-dana masyarakat yaitu dengan pinjaman nasional dan tanbungan masyarakat, pinjaman dari luar negeri dan biaya lainya mengikut sertakan badan swasta di dalam pembangunan ekonomi.Tetapi rencana ini tidak berhasil dikarenakan situasi politik dan militer tidak memungkinkan. Belanda mengakibatkan sebagian besar wilayah Indonesia yang ekonomis potensial jatuh ke tangan mereka akibatnya kesulitan ekonomi semakin memuncak. Sehingga Pemerintah melaksanakan rasionalisasi . Rasionalisasi itu meliputi penyempurnaan administrasi negara, angkatan perang dan aparat ekonomi. Sejumlah Angkatan Perang dikurangi
Karena dasar ekonomi kita petani dari Menteri Urusan Bahan Makanan Kasimo. Kasimo menyarankan agar menanami tanah yang kosong. DI Jawa ditanami bibit padi yang unggul dan memelihara hewan ternak dengan baik dan dilaksanakanya trasmigrasi. April 1947 Badan Perancang Gani di ganti dengan Panitia Pemikir Siasat Ekonomi yang dipinpin oleh Moh. Hatta yang bertugas mempelajari, ,emgumpulkan data dan memberikan bahan bagi Pemerintah dan menasehati Pemerintah dalam berunding dengan Belanda. Panitia ini mempelajari tentang masalah ekonoi umum, perkebunan, perindustrian, pertambangan, hak milik asing, keuangan, listrik, kereta api, term, perburuan dan masalah di daerah pendudukan Belanda. Panitia ini menghasilkan rancangan berisi program pembangunan jangka panjang dengan tujuan memperbesar dan meyebarkan kemakmuran secara merata, dengan cara:
1. Mengintensifkan usaha produksi
2. Memajukan pertukaran Internasional
3. Mencapai taraf hidup yang lebih baik
4. Mempertinggi derajat dan kecakapan rakyat
Adapun petunjuk yang harus diikuti yaitu sektor perdagangan digiatkan kembali, impor dibatasi, ekspor ditingkatkan dan trasmigrasi di galakkan. Tetapi semua itu belum bisa dilaksanakan karena situasai politik dan militer yang tidak stabil. Terjadinya pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948, aksi militer Belanda yang kedua. Pada saat perang kemerdekaan partisipasi dari para pengusaha swata kurang menggembirakan sehingga wadah persatuanya harus diperkuat. Persatuan Tenaga Ekonomi (PTE) menggalang dan melenyapkan individualisme dikalangan pedagang untuk memperkokoh ekonomi.